Jumat, 02 Maret 2012

PERDARAHAN ANTEPARTUM








1.1    Pengertian
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan  28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.


1.2    Penyebab
Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh :
a. Bersumber dari kelainan plasenta
b. Tidak bersumber dari kelainan plasenta,
c. Perdarahan yang belum jelas sumbernya
 
1.2.1 Bersumber dari kelainan plasenta
1. Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi
pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi
sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ).
Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 :
a. Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta.
b. Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh
plasenta.
c. Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta.
Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
- Endometrium yang kurang baik
- Chorion leave yang peresisten
- Korpus luteum yang berreaksi lambat

2.
Solusi plasenta
Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang\
letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya
dihitung kehamilan 28 minggu.
Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain :
a. Solusi plasenta ringan
• Tanpa rasa sakit
• Pendarahan kurang 500cc
• Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian
• Fibrinogen diatas 250 mg %
b. Solusi plasenta sedang
• Bagian janin masih teraba
• Perdarahan antara 500 – 1000 cc
• Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian
c. Solusi plasenta berat
• Abdomen nyeri-palpasi janin sukar
• Janin telah meninggal
• Plasenta lepas diatas 2/3 bagian
• Terjadi gangguan pembekuan darah
b. Tidak bersumber dari kelainan plasenta, biasanya tidak begitu berbahaya,
misalnya kelainan serviks dan vagina ( erosion, polip, varises yang pecah).
c. Perdarahan yang belum jelas sumbernya terdiri dari:
                        1. Pecahnya sinus marginalis
Sinus marginalis adalah tempat penampungan sementara darah retroplasenter. Perdarahan ini terjadi menjelang persalinan jumlahnya tidak terlalu banyak, tidak membahayakan ibu dan janin, karna persalinan akan segera berlangsung. Perdarahan ini sulit asalnya dan baru diketahui setelah plasenta lahir. Pada waktu persalinan, perdarahan terjadi tanpa sakit, dan menjelang pembukaan lengkap yang perlu dipikirkan kemungkinan perdarahan karna sinus marginalis pecah.
2. Pecahnya vasa previa
            Perdarahan yang terjadi segera setelah ketuban pecah, karena pecahnya pembuluh darah yang berasal dari insersio vilamentosa (keadaan tali pusat berinsersi dalam ketuban).
           
1.3    Pencegahan
            Ada tiga macam pencegahan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier.

1.3.1 Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya untuk mempertahankan kondisi orang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pengawasan antenatal memegang peranan yang sangat penting untuk mengetahui dan mencegah kasus-kasus dengan perdarahan antepartum. Beberapa pemeriksaan dan perhatian yang biasa dilakukan pada pengawasan antenatal yang dapat mengurangi kesulitan yang mungkin terjadi ialah pemeriksaan kehamilan, pengobatan anemia kehamilan, menganjurkan ibu untuk bersalin di rumah sakit atau di fasilitas kesehatan lainnya, memperhatikan kemungkinan adanya kelainan plasenta dan mencegahserta mengobati penyakit hipertensi menahun dan preeklamsia.
Program kesehatan ibu di indonesia menganjurkan agar ibu hamil memeriksakan kehamilannya paling sedikit 4 kali, dengan jadwal 1 kunjungan pada trimester pertama, 1 kunjungan pada trimester ke dua, dan 2 kunjungan pada trimester ke tiga. Tetapi apabila ada keluhan, sebaiknya petugas kesehatan memberikan penerangan tentang cara menjaga diri agar tetap sehat dalam masa hamil.perlu juga memberikan penerangan tentang pengaturan jarak kehamilan, serta cara mengenali tanda-tanda bahaya kehamilan seperti : nyeri perut, perdarahan pada kehamilan, odema, sakit kepala terus menerus, dan sebagainya.
Para ibu yang menderita anemia dalam kehamilan akan sangat rentan terhadap infeksi dan perdarahan. Kematian ibu karna perdarahan juga lebih sering terjadi pada para ibu yang menderita anemia kehamilan senelumnya. Anemia dalam kehamilan, yang pada umumnya disebabkan oleh defisiensi besi, dapat dengan mudah diobati dengan jalan memberikan preparat besi selama kehamilan. Oleh karna itu, pengobatan anemia dalam kehamilan tidak boleh diabaikan untuk mencegah kematian ibu apabila nantinya mengalami perdarahan.
Walaupun rumah sakit yang terdekat letaknya jauh, para ibu hamil yang dicurigai akan mengalami perdarahan antepartum hendaknya diusahakan sedapat mungkin mengawasi kehamilannya dan bersalin di rumah sakit tersebut.
Untuk kehamilan dengan letak janin yang melintang dan sukar diperbaiki atau bagian terbawah janin belum masuk pintu atas panggul pada minggu-minggu terakhir kehamilan, dapat juga dicurigai adanya plasenta previa.
Preeklamsia dan hiprtensi menahun sering kali dihubungkan dengan terjadinya solusio plasenta. Apabila hal ini benar, diperlikan pencegahan dan pengobatan secara seksama untuk mengurangi kejadian solusio plasenta.

1.3.2 Pencegahan sekunder
            Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah orang yang telah sakit menjadi semakin parah dan mengusahakan agar sembuh dengan melakukan tindakan pengobatan yang cepat dan tepat.
            Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 28 minggu yang lebih banyak dari perdarahanyang biasa, harus dianggap sebagai perdarahan antepartum. Apapun penyebabnya, penderita harus dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk transfusi darah dan oprasi. Jangan melakukan pemeriksaan dalam di rumah atau di tempat yang tidak memungkinkan tindakan operatif segera, karna pemeriksaan itu dapat menambah banyaknya perdarahan.
            Pemasangan tampon dalam vagina tidak berguna sama sekali untuk menghentikan perdarahan, tetapi akan menambah perdarahan karena sentuhan pada serviks sewaktu pemasangannya.
            Perdarahan yang terjadi pertama kali jarang atau boleh dikatakan tidak pernah menyebabkan kematian, asalkan sebelumnya tidak dilakukan pemeriksaan dalam. Biasanya masih terdapat cukup waktu untuk mengirimkan penderita ke rumah sakit sebelum terjadi perdarahan berikutnya yang hampir selalu akan lebih banyak dari pada sebelumnya.
            Ketika penderita belum jatuh ke dalam syok, infus cairan intravena harus segera di pasang dan dipertahankan terus sampai tiba di rumah sakit. Memasang jarum infus  kedalam pembuluh darah sebelum syok akan jauh lebih mudah transfusi darah bila sewaktu-waktu diperlukan.
            Segera setelah tiba dirumah sakit, usaha pengadaan darah harus segera dilakukan, walaupun perdarahannya tidak seberapa banyak. Pengambilan contoh darah penderita untuk pemeriksaan golongan darahnya dan pemeriksaan kecocokan dengan darah donornya harus segera dilakukan. Dalam keadaan darurat pemeriksaan seperti itu mungkin terpaksa di tunda karena tidak sempat dilakukan jadi terpaksa langsung mentransfusikan darah yang golongannya sama dengan golongan darah penderita, atau mentransfusikan darah golongan O rhesus positif, dengan penuh kesadaran akan segala bahayanya.
            Pertolongan selanjutnya di rumah sakit tergantung  dari paritas, tuanya kehamilan, banyaknya perdarahan, keadaan ibu, keadaan janin, sudah atau belum mulainya persalinan dan diagnosis yang ditegakan.
            Apabila pemeriksaan baik perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartum, kehamilan belum cukup 37 minggu, atau berat janin masih dibawah 2500 gram, maka kehamilan dapat dipertahankan dan persalinan ditunda sampai janin dapat hidup di luar kandungan dengan lebih baik lagi. Tindakan medis pada pasien dilakukan dengan istirahat dan pemberian obat-obatan seperti spasmolitika, progestin atau progesteron.
            Sebaiknya jika perdarahan yang telah berlangsung atau yang akan berlangsung dapat membahayakan ibu dan/atau janinnya, kehamilannya juga telah mencapai 37 minggu, taksiran berat janin telah mencapai 2500 gram, atau persalinan telah mulai, maka tindakan medis secara aktif yaitu dengan tindakan persalinan segera harus ditempuh. Tindakan persalinan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu persalinan pervaginam dan persalinan perabdominal dengan seksio cesarea.
            Pada plasenta previa persalinan pervaginam dapat di lakukan pada plasenta letak rendah, plasenta marginalis, atau plasenta previa lateralis anterior (janin dalam presentasi kepala). Sedangkan persalinan perabdominal dengan secsio cesarea dilakukan pada plasenta previa totalis, plasenta previa lateralis posterior, dan plasenta previa letak rendah dengan jain letak sungsang.
Pada solusio plasenta, dapat dilakukan persalinan perabdominal jika pembukaan belum lengkap.  Jika pembukaan telah lengkap dapat dilakukan persalinan pervaginam dengan amniotomi, namun bila dalam 6 jam belum lahir dilakukan seksio cesarea.
Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian terbawah janin menekan plasenta dan bagian plasenta yang beradarah selama persalinan berlangsung, sehingga perdarahan berhenti. Seksio cesarea bertujuan untuk secepatnya mengangkat sumber perdarahan, dengan demikian memberikan kesempatan kepada uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan dan untuk menghindari perlukaan serviks dari segmen bawah uterus yang rapuh.

1.3.3. Pencegahan tersier
            Pencegahan tersier meliputi rehabilisasi (pemulihan kesehatan) yang ditukan terhadap penderita yang baru pulih dari perdarahan antepartum meliputi rehabilitasi mental dan sosial, yaitu dengan memberikan dukungan moral bagi penderita agar tidak berkecilhati, mempunyai semangat untuk terus bertahan hidup dan tidak putus asa sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang berdaya guna.





1.4    Faktor yang berhubungan dengan perdarahan ante partum.
a. Faktor dari plasenta previa
1. Umur dan Paritas
· Pada Primigravida, umur diatas 35 tahun lebih sering daripada umur dibawah 25 tahun
· Lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah
Di Indonesia, menurut Toha, plasenta previa banyak dijumpai pada umur muda dan paritas kecil; hal ini disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium masih belum matang (inferior).
2. Hipoplasia endometrium; bila kawin dan hamil pada usia muda
3. Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, post operasi caesar, kuretase, dan manual plasenta.
4. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.
5. Kehamilan janin kembar,.
6. Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium
7. Kadang-kadang pada malnutrisi.
8. Riwayat perokok.
b. Faktor-faktor dari solusio plasenta antara lain :
1.      Faktor vaskuler (80-90%), yaitu toksemia gravidarum, glomerulo nefritis kronika, dan hipertensi esensial. Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh darah mudah pecah, kemudian terjadi haematoma retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas.
2.      Faktor trauma:
- Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli
- Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar, atau pertolongan persalinan.
3. Faktor paritas.
Lebih banyak dijumpai pada multi daripada primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta dijumpai 45 multi dan 13 primi.
4. Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain.
5. Trauma langsung seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar